Oleh: Efriza, Dosen Ilmu Politik di Beberapa Kampus, dan Owner Penerbitan
Serang,teropongnews.id- PEMILIHAN Kepala Daerah (PIlkada) di Banten menghadirkan pertanyaan di benak publik kala melihat fakta Airin Rachmi Diany belum punya pasangan calon dan tersisa dua partai politik saja yakni partainya sendiri Partai Golkar dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Sedangkan partai-partai lain yang memperoleh kursi di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Banten sudah menyatakan dukungannya terhadap pasangan calon Andra Soni dan Achmad Dimyati Natakusumah.
Akibat dua dukungan di Koalisi Indonesia Maju (KIM) terhadap dua nama calon yakni Andra Soni dan Airin menimbulkan polemik bahwa KIM terpecah karena ketidakakuran pilihan antara Partai Golkar dan Partai Gerindra sebagai partai politik tempat bernaungnya Airin dan Andra Soni. Tulisan ini ingin menguraikan dinamika politik di Pilkada Banten.
Airin Tak Dipilih Saat ini Airin dalam Pilkada 2024 tampak tak memikat partai-partai politik yang memperoleh kursi di DPRD Provinsi Banten. “Koalisi Gemuk” dikuasai oleh Andra Soni-Dimyati dengan didukung oleh partai-partai politik dari reprsentasi KIM dan di luar KIM.
Pasangan Andra Soni-Dimyati dari KIM didukung oleh Partai Gerindra, Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Demokrat, dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Sedangkan di luar partai-partai politik yang berada di KIM adalah Partai Koalisi Kebangsaan (PKB), Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Dengan didukng penuh oleh 7 partai politik yang berada di KIM maupun di luar pemerintahan terkesan menunjukkan Airin ditinggal bahkan diabaikan. Airin yang merupakan representasi politik dari Dinasti Politik keluarga Ratu Atut tampak tak lagi diminati. Mengesankan pula ada upaya partai-partai politik itu sedang melawan kekuatan dinasti politik di Banten.
Secara hitungan matematika dari kekuatan basis massa konstituen partai dan berdasarkan hasil perhitungan suara pemilih tampak koalisi besar akan menunjukan dengan mudah pasangan Andra-Dimyati menang melawan Airin. Hal itu menunjukan memang mudah jika sekadar menyatakan akan kemenangan Andra jika melihat hasil pemilihan umum (pemilu) serentak 2024 kemarin. Namun realitasnya tidak sederhana seperti diuraikan diatas.
Sebab, meski Airin dengan Golkar belum punya mitra koalisi, hanya tersisa PDIP yang belum menentukan pilihan. Tetapi diyakini Pilkada Banten tidak akan terjadi Pilkada dengan calon tunggal. Disisi lain, meski Airin “di kepung” tetapi dapat dipastikan Pilkada Banten persentase kemenangan Andra-Dimyati tidak akan membesar, sebab ini adalah wilayah dinasti politik dari keluarga besar Airin.
Airin Tetap Kuat di Banten.
Fakta menunjukkan Airin tetap kuat ketimbang Andra dalam sisi survei elektabilitas. Nyatanya, Airin memuncaki hasil Survei Pilkada Gubernur Banten sebesar 38,3 persen. Sedangkan Andra Soni tidak menempati survei elektabilitas. Andra kalah dengan Wahidin Halim eks Gubernur Banten 2017-2022 dengan elektabilitas 18,1 persen dan eks Gubernur Banten 2005-2017 Rano Karno dengan 16,5 persen. Sedangkan Achmad Dimyati Natakusumah sebagai wakilnya hanya memperoleh 3,7 persen.
Ini menunjukkan Airin hanya kalah dari sisi dukungan partai, dan hitungan dari konstituen dan basis pemilih partai politik pada hasil pemilu serentak 2024 kemarin saja. Tetapi jika melihat kecenderungan hasil survei elektabilitas maka Airin masih memuncaki. Ingat survei elektabilitas di Pilkada ini adalah cerminan pernyataan langsung dari masyarakat Banten saat ini bukan pada Februari 2024 lalu yang merupakan hasil pemilu serentak 2024.
Pilkada Banten juga patut dipahami bahwa Airin ini bagian dari keluarga dinasti Atut yang menguasai Banten. Pemilih di Banten sudah jelas amat sulit untuk berpaling dari keluarga dinasti Airin. Meski Dinasti Politik dianggap tidak baik bagi kalangan akademisi kampus, tetapi keluarga Atut/Airin ini tetap bagi masyarakat dinilai baik dan patut melanjutkan kepemimpinannya di Banten.
Airin tentu saja juga tenang meski dikepung oleh partai-partai politik karena koalisi PDIP-Golkar juga masih memenuhi syarat pencalonan pasangan gubernur-wakil gubernur di Pilkada Banten. Apalagi jelas koalisi PDIP-Golkar juga pernah terbukti menang dan memerintah di era Ratu Atut-Rano Karno.
Malah fakta miris sebenarnya adalah KIM bukan terpecah dalam dua pasangan caalon gubernur-wakil gubernur di Pilkada Banten, tetapi Andra Soni hanya sebuah upaya nyata dari Gerindra yang menyadari sulit mengalahkan dinasti politik Airin dan keluarganya namum ini kesempatan untuk menghadirkan kadernya agar diperhitungkan di perpolitikan Banten.
Memungkinkan Andra Soni hanya meramaikan perpolitikan Banten saja, tetapi untuk memenangkan sekaligus menjungkalkan keluarga dinasti Atut rasanya masih terlalu jauh impian tersebut. Sebab, harus diakui Banten itu unik, masyarakatnya memahami dinasti politik itu buruk tetapi kenyataannya masyarakat Banten sebagai pemilih masih memilih keluarga Atut, dan dapat dianggap dengan menggunakan Bahasa Sarkas, Dinasti Politik Keluarga Atut Dibenci Sekaligus Dicinta Oleh Masyarakatnya.
Ini fakta yang miris, Banten dicengkram dinasti politik, tetapi di lain pihak masyarakat sudah mahfum dengan kondisi mereka. Sehingga, masih sangat sulit menjungkalkan Dinasti Politik Atut, tetapi kesempatan Andra Soni untuk melesatkan namanya dalam jajaran representasi politik baru yang patut diperhitungkan dalam dinamika politik di Banten. (*)
